sesion 2

Dari lantai pertama dan kedua terdengar dengungan mesin AC yang bentuknya masih kotak di lantai ketiga aku tak melihat sedikitpun ada onggokan mesin AC dari luar, pikiranku sudah melayang.. “ok.. kita makek kipas angin..” sampai di lantai tiga dengan perjuangan dan peluh yang bercucuran.. he3 sangking banyaknya keringet ampe kerasa di bibir.. asin coy… kamarku berukuran ± 3x3m terdiri dari 2 bed. Satu bed terdiri dari dua tingkat bed, dan satu lagi hanya satu kasur. Sial.. tasku cantolanalnnya jebol.. maklum aku beli “lemari” (tas gede-red) segede gajah gitu murah.. ngirit gitu.. doku kan pas-pasan.. yah aku pikir awet.. eh.. bener orang jawa bilang.. “rego nggowo rupo” artinya harga suatu barang menggambarkan baik tidaknya barang.. well, maw gemana lagi..

Tampak kipas angin yang besar tergantung di atap kamar. Aku cari sakelar kipas angin dan ketemu.. eh… ternyata kipas anginpun mati.. jadilah aku tidur tanpa alat pendingin sama sekali. Padahal asal pada taw saja ya.. kota Kupang itu panasnya bukan main.. atau mungkin kami dateng pas lagi panas-panasnya.. yang jelas malam itu tidur dan pagi-pagi sudah keringetan.. tanpa “olahraga” apapun.. he3.. Sudah datang telat, jadi kuli angkut, dapet kamar “ekslusif” lagi.. wes gak popo… mestine nanti di tempat PTT pasti lebih menderita.. apalah arti kipas angin atau AC, setidaknya sekarang ini?.. Aku sendiri gag bisa bobok kalo belum mandi.. setelah melihat karena ngantuk yang sudah tidak tertahankan lagi akupun terlelap dalam panasnya suhu di kota Kupang ini..

D’ 1st day at Kupang..

Mesti bangun jam 6 pagi.. padahal baru tidur semalem jam 2-an (WITA) lebih.. hiks.. tidak lupa aku menguras bak mandi karena amit2 kotornya… huf.. bener2 kamar spesial.. baru sekali ini aku menginap hotel dan menguras bak sendiri.. hihihi… kacau banget dah.. abiz mandi, setrika baju karena emang bajunya udah ikut tidur juga di tas.. sehingga kucel banget.. secara, hari ini ketemu kadinkes prop NTT gitu loch.. so harus rapih..

Jam menunjukkan waktu pukul setengah 8 pagi WITA, tak lupa ku-pas-in dulu jammnya karena semalem emang belom sempet menyamakan skor WIB dan WITA. Baru jam setengah 8 pagi kota Kupang ini terasa panas. Kalo orang jawa bilang sumuk, atau gerah. Baju yang habiz disetrika bekerjasama secara sinergis dengan panasnya kota Kupang ini untuk membuat keringatku bercucuran kayak kue cucur.. wkwkwkw.. emang kue cucur bercucuran ya.. lalu kenapa dinamain kue cucur? Hehehe..

Satu kompi dokter PTT di hotel kami turun satu-persatu menuju depan hotel untuk segera pergi ke Kantor Dinkes Kupang, kita semua hampir semua belon tau kayak apa Kupang ini dan mesti kemana arah menuju kantor Dinkes. Beruntung ada pak Nyoko, pegawai depkes pusat yang sudah diceritakan sebelumnya, memberi tahu cara menuju kesana. Kita naek bemo (istilah angkutan kota di Kupang ini) warna hijau. Sebenarnya kalo pada umumnya bemo menunjuk pada kendaraan umum seperti bajaj beroda tiga yang dikendarai dengan motor semacam vespa, tapi kalu bemo disini ya angkot beroda empat seperti angkot pada umumnya. Sesuatu yang spesial yang tidak dapat ditemukan di tempat lain selain di NTT terutama Kupang ini adalah bahwa bemo disini full musik. Full musik dalam arti yang sebenarnya, bukan karena kendaraan rusak kayak kaleng jadi dibilang full musik. Bemo disini dilengkapi dengan sound system yang ajeb-ajeb.. dengan tape CD di depan, kemudian kabel output sound yang disalurkan ke speaker woofer/subwoofer yang diletakkan memanjang tepat dibawah kursi belakang samping kanan maupun kiri. Sehingga kursi yang diduduki akan terasa lebih tinggi, dan kita (terutama orang-orang yang memiliki postur tubuh yang tinggi) harus menunduk agar kepala kita tidak kejedot atap bemo atau pegangan tangan yang dipasang tepat didepan atas muka kita. Secara, karena speaker segede itu diletakkan dibawah kursi, maka para manusia yang duduk diatas kursi akan merasakan getaran hebat akibat suara berfrekuensi rendah yang disetel dengan amplitudo yang tinggi… (hehehe.. bener gak yah.. maap ya kalo salah).. berrr.. berrr…. ya kira-kira seperti itulah rasanya.. he3.. Selain dilengkapi dengan soundsystem yang tob markotob punya, bemo disana juga dilengkapi dengan lampu hias warna-warni, sehingga kalau malam tiba, kamu akan merasa seperti di diskotik mini. Wew… macho pisan ya.. juga biasanya di tambahi juga dengan hiasan boneka gantung sehingga memperindah bemo. Jangan lupa, bemo-nya juga wangi loh, karena biasanya ada parfum yang digantung. Keren kan..

Dengan uang sebesar Rp. 2.000,- kita sampai dipertigaan dan harus berjalan sekira 300-400 m untuk menuju kantor Dinkes. Sempai disana sudah ada teman2 yang lain. Ternyata ada teman sejawat lain yang tidak menginap di hotel kam. Ada lagi hotel lain yang juga menjadi tempat naungan dokter-dokter PTT, namanya hotel Cendana.

Oh iya, ngomong-ngomong masalah Cendana nih, di NTT ini pohon Cendana di daerah-daerah tertentu tumbuh dengan baik dan wanginya konon bener-bener maknyuss dan sudah diakui, bahkan oleh para perajin-perajin kayu di Bali. Yang dimaksud dengan daerah-daerah tertentu adalah daerah yang pulaunya terdiri dari batu karang. Nah kalo bingung, aku beri taw yah…

NTT ini, terdiri dari empat pulau besar di dalamnya yaitu P. Flores, P. Sumba, P. Timor, dan P. Alor. (Kalau penasaran dmana letak pulau-pulau ini, teman-teman bisa cari di Peta). Itulah kenapa, provinsi NTT ini disebut juga FLOBAMORA (mungkin beberapa rekan sudah pernah mendengarnya), yang merupakan singkatan dari FlOres-sumBA-tiMOR-Alor. Nah, menurut cerita, pulau Flores, Sumba dan Alor, adalah pulau yang terbentuk karena adanya tekanan dari perut bumi yang bergejolak ingin keluar ke atas. Sehingga terbentuklah sebuah gundukan pulau. Keadaan ini yang bisa menceritakan kenapa di pulau Flores jarang sekali dijumpai tanah datar yang cukup luas (saya bilang jarang lho ya.. bukan berarti tidak ada). Disini daerahnya extreem. Di misalnya kecamatan A dataran rendah yang biasanya panas, semantara di kecamatan B yang notabene di sebelahnya terletak di pegunungan yang hawanya suejuk tenan… kondisi ini pula yang bisa dijadikan alasan kenapa di pulau Flores seringkali terasa getaran gempa bumi (meskipun katanya akhir-akhir ini jarang). Sementara itu, Pulau Timor adalah sebuah pulau yang terbentuk dari karang. Jadi, dulunya pulau P. Timor ini adalah bebatuan karang, yang bagian atasnya lama-lama melapuk, sehingga mambantuk tanah. Tapi pada dasarnya dibawahnya adadalah batu karang. Hal ini pula yang bisa mendasarkan kenapa di sini air susah sekali didapatkan. tentu saja menggunakan sumur adalah hal yang sangat sulit, dan ketika saya bertanya, kenapa tidak memakai sumur bor?, mereka menjawab, karena memakai bor pun susah, karena tanah dibawahnya adalah karang dan kapur, sehingga bor-bor biasa tidak sanggup untuk melubangi perut bumi ini. Harus memerlukan mata bor khusus yang saya kurang paham mengenai itu, entah memakai intan, atau apalah.. yang jelas harus khusus. Bisa teman lihat kan iklan AQUA (wah ini dapat sponsor AQUA nih harusnya.he3) yang “beta sonde pernah terlambat lagi” itu… Hal ini juga bisa digunakan sebagai alasan mengapa di P Timor tidak (setidaknya belum.he3) pernah diguncang gempa, bahkan katanya saat tsunami kemarin. Nah soal cendana tadi, perlu diketahui juga, bahwa pohon cendana yang baik, dalam arti berbau harum, adalah pohon yang sudah dewasa. Konon katanya yang baik adalah yang berumur sekitar 40 tahun. Dan apabila mencapai 80 tahun, maka Cendana ini kualitasnya adalah yang terbaik. Hihihi… tuek deh kita.. Jadi begini, dalam sebuah pohon cendana, bagian yang paling wangi adalah bagian tengah dari batang pohon. Sudah saya coba karena penasaran, saya ambil daunnya, dan saya kelupas sedikit kulit batangnya, tidak ada sedikitpun di bagian itu yang baunya harum. Jadi semakin besar dan tua pohon cendana, maka bagian harumnya juga akan semakin luas dan bagian tengahnya akan semakin wangi. Seperti kita ketahui bahwa transport air pada tumbuhan adalah melalui batang. Sehingga otomatis pada cendana, semakin sedikit air yang ditransport ke atas, maka semakin sedikit pula kandungan air pada bantangnya, semakin wangi pula harum cendana. Nah itulah sebabnya, kualitas cendana di P Timor, jauh lebih bagus dibanding cendana di P Flores. Oh, iya, katanya, kalau kualitas cendana yang bagus untuk pulau Jawa, adalah didaerah Gunungkidul (kalau ini saya tidak tahu), karena daerahnya juga terdiri dari tanah yang kering. Pohon Cendana sendiri, pada awal hidupnya merupakan tumbuhan parasit. Jadi untuk bisa hidup, dari semasa kecil, harus ada pohon inangnya terlebih dahulu, baru setelah sedikit dewasa, pohon inangnya akan mati, dan pohon Cendana akan hidup dengan enaknya. Mangapa harus menggunakan pohon inang? Menurut apa yang saya baca di internet, bahwa pada awal kehidupannya, Cendana ini tidak cukup memiliki akar yang kuat untuk menopang hidupnya, sehingga akan menjadi dia harus menjadi benalu dari akar pohon lain. Sebagai tambahan lagi, bahwa kayu Cendana ini jika dijual akan memiliki nilai jual yang sangat tinggi. Sayangnya, apabila pohon Cendana ini sudah dewasa, maka dimanapun, kapanpun, bagaimanapun, dan apapun yang terjadi, maka itu diakui sebagai milik pemerintah. Sehingga ada cerita, apabila ada pohon Cendana muli dewasa, maka penduduk setempat memilih menebangnya sebelum tumbuh dewasa. Karena percuma saja, hanya manjadi hak pemerintah untuk memotong dan menjualnya. Saya rasa sudah cukup, kalo masih ingin bertanya, silahkan isi comment saja yah..

Setelah semua berkumpul pagi itu, diberitahukan oleh petugas Dinkes bahwa acara di undur jam 13.00 WITA. He3.. enak kan.. Karena aku masih ngantuk, kupikir pulang ke hotel sajalah untuk kembali beristirahat. Dan aku mebali menggunakan bemo dengan nomor yang sama yaitu nomor “6” untuk kembali ke hotel. Sementara istriku bersama temannya ingin pergi makan. Aku titip dibelikan makanan saja. Aku terbangun sebentar ketika jam menunjukkan sekitar jam 10an lebih, karena istriku pulang hotel bersama teman-temannya. Dia juga ngantuk, trus ikutan tidur. Alarm di handphone menunjukkan pukul 12.00 WITA, ketika dia meneriaki telingaku sampai aku terbangun dengan keringat yang buanyaknya minta ampun karena udara yang super panas. Huh… lesu sekali rasanya.. tidur, dan bangun siang-siang begini. Malas sebenarnya untuk pergi lagi, tapi Kadinkes sudah menunggu.. jadi aku harus segera siap-siap berangkat lagi… berengkeeet.. Dengan cara yang sama aku sampai di Dinkes, hanya saja kali ini supir bemo mau mangantarkan langsung sampai ke depan pintu Dinkes. Sehingga tidak perlu kepanasan lebih lama lagi. Karena jam segini panasnya,bukan Cuma panas biasa.. tapi di kulit terasa sekali menyengat.. Dinkes prop NTT terdiri dari dua lantai,di bawah adalah kantor utama, dan diatas terdiri dari ruangan pertemuan dan beberapa ruangan yang sepertinya digunakan juga untuk kantor. Ketika sampai di tangga menuju ruang pertemuan, saya bertemu dengan sosok bapak-bapak berusia sekitar 40 tahun, dengan kepala bagian atas dan depan yang sudah botak, kulitnya hitam, dan tampak percaya diri, menanyakan ke teman-teman yang lain: “Manggarai Barat ya? dari Bali ya?”, yang jika dikombinasikan dengan bahasa tubuhnya bermaksud menanyakan apakah kabupaten tujuan PTTnya di Manggarai Barat, dan apakah Anda dari Bali.. dan ketika kulihat beliau bertanya, teman-teman menjawab bukan. Kebetulan tujuanku adalah Manggarai Barat, dan aku lihat di internet kalau Kadinkes Manggarai Barat adalah orang yang berasal dari Bali. Istrikupun memaksa untuk mendekatinya.. karena siapa tahu dia adalah Kadinkes Manggarai Barat, kana lumayan tuh cari muka dulu.. wkwkwkw.. dengan perasaan yang enggan, akhirnya kuberanikan diri untuk menanyakannya..

Aku : “maaf saya di Manggarai Barat Pak..”

Beliau : “oh, kamu manggarai barat?” dengan logat NTT yang kental, menunjukkan kalau dia sudah lama hidup disini.

Aku : “iya Pak, maaf apakah bapak kepala dinkes Manggarai Barat?”

Beliau : “ bukaaann, saya juga dokter PTT…”

Betapa malunyaaaaaa saya…. sudah PeDe banget kalo dia Kadinkes, eeeh, ternyata eh ternyata dokter PTT juga… belakangan aku ketahui, ternyata namanya Pak Mikael Yaman, seorang dokter gigi lulusan Udayana yang juga PTT di Manggarai Barat.. mengenai siapa beliau,beiau adalah orang aseli Manggarai Barat yang sudah lama hidup di Jawa, dia ikut PTT kali ini dengan harapan setelah PTT ini dia hendak mengajukan diri menjadi PNS di Manggarai Barat, maksudnya mau pulang kampung dan berbakti di kampungnya aja gitu loch.. Jadi, ternyata dia menanyakan dari Bali adalah apakah kamu lulusan dari Bali (Udayana).. hihihihi… cape deeeh…

Kemudian kamipun menuju pada suatu ruang pertemuan yang setelah terisi oleh kami (sekitar 100 orang/lebih) cukup penuh dan menyebabkan suhu did alam ruangan yang meningkat. Padahal setidaknya ada 4 buah AC di ruangan itu, namun tidak kuasa menahan panasnya ruangan ini. Sepertinya AC-nya memerlukan servis nih.. karena setelah dibuka jendelanya malah sedikit lebih segar dibanding menggunakan AC, meskipun sebenarnya tetap saja terasa sumpek dan panas. Kebetulan aku duduk ditempat yang jauh dari jendela. Huf3… padahal kita disuruh memakai jas putih pula..adududuh.. gerah euy..

Setelah pertemuan selesai, waktu menunjukkan sekitar pukul empat sore, agak teduh dibanding tadi siang, namun tetap terasa panas bagiku. Kemudian aku ingat bahwa aku punya kartu Indosat 3.5G Broadband Unlimited, kemudian aku isi dengan status account Facebook-ku yang menunjukkan kalau aku sedang di Kupang. Ternyata tidak selang berapa lama ada teman SMA dulu (laki-laki lhow.., tapi bukan homo lhow..) yang menanyakan aku di kupang sebelah mana.. dan aku baru teringat kalau ternyata dia juga sedang di Kupang.. ya Tuhaan.. ada teman juga yang hidup disini.. sebenarnya aku punya teman, setidaknya 3 teman yang asli anak Kupang, namun mereka sepertinya betah hidup di Jawa dan sepertinya juga jarang pulang.he3. Aku cari nomor handphone di profil facebook-nya ketemu, dan kutelepon supaya dia menuju ke Dinkes. Ternyata dia sedang di kantor, tapi dia meyakinkan aku kalau dia bisa keluar kantor sebentar. Sementara istriku sudah pulang bareng teman-temannya. Dan akhirnya aku bertemu dengannya.. setelah ngobrol ngalor-ngidul menanyakkan segala sesuatunya, aku pulang ke hotel diantar dia. Malam hari aku lewati masih seperti sebelumnya.. tetap panas dan gerah.. namun malam ini aku sepertinya agak merasa tidak enak badan. Aku merasa agak mual, sepertinya tubuhku agak kurang cepat beradaptasi dengan cuaca disini. Aku harus tidur, supaya besok tidak sakit, dan zzz..zzz.zz.zz.. tertidurlah aku..

2nd days

Kita berangkat lagi ke Dinkes untuk mengurusi keberangkatan termasuk surat-surat perjalan dinas ke Kabupaten, dan tentu saja uang transport. He3.. Sampai di dinkes, kami masih harus menunggu esok hari, karena surat belum jadi. Itu berarti kami harus lebih lama lagi di kota Kupang ini. Saat ini kami sudah mulai berkelompok berdasarkan kabupaten tujuan. Khusus untuk Kab. Manggarai Barat terdiri dari 8 orang, yang terdiri dari 6 orang dokter umum, dan 2 orang dokter gigi. Siang hari kita mencari makan, dan kitapun mengincar makanan khas kota Kupang ini. Kata orang-orang sekitar ada makanan yang di beri judil “Se’i”. Se’i adalah daging yang dimasak dengan cara diasapkan. Jadi se’i adalah daging asap. He3. Sebenarnya istilah se’i ini digunakan untuk daging babi yang di asap. Karena dulu mayoritas warga Kupang adalah Nasrani maka se’i-nya adalah se’i babi. Namun dengan perkembangan kondisi, maka semakin banyak warga luar yang berdatangan ke NTT. Dan tentu saja tidak semua beragama Nasrani. Karena pada kenyataannya sekarang, banyak warga yang beragam Islam berdomisili di NTT ini. Namun, puji Tuhan sampai saat ini mereka masih hidup berdampingan dengan damai. Semoga selalu dan selalu seperti itu. Amin. Karena keadaan inilah maka, lahirlah makanan se’i yang terbuat dari daging sapi sehingga disebut se’i sapi. Sampai saat ini setahu saya baru ada dua macam se’i ini. Yaitu se’i babi dan se’i sapi. Silahkan pilih menurut selera dan kepercayaan masing-masing. Se’i ini setelah diasapkan, disajikan dengan lalapan yang terdiri dari bunga pohon pepaya, dan kangkung yang sudah direbus dahulu, sementara beberapa warung makan se’i juga menyediakan daun pepaya juga. Dan meskipun judulnya bunga dan daun pepaya, namun tidak terasa pahit. Entah bagaimana mereka mengolahnya. Kalo di Jawa kan ada yang merendam dengan tanah liat, dengan garam, di rebus lebih lama, dsb. Salah saya dan teman-teman karena tidak bertanya. He3. Oh iya, ngomong-ngomong masalah bunga pepaya, konon dengan rajin memakan daun pepaya, kita bisa terhindar dari malaria.. entah darimana asalnya dan bagaimana patofisiologinya, tapi begitulah kepercayaan orang yang ada disini. Aku sendiri baru pernah mendengarnya dan belum sempat searching di internet. Kebetulan disini daerah endemis malaria. Lanjut lagi masalah se’i tadi ya.. Dengan lalapan tersebut, disajikan pula sambal uleg yang berwarna orange kekuningan. Sepertinya menggunakan cabe rawit tapi yang belum matang benar dari pohon. Kebetulan aku adalah penggemar makanan pedas, jadi cukup tahu mana lombok rawit, lombok ijo, lombok merah, dan bagaimana rasa mereka. Kemudian aku mencoba mengambil sambal tersebut dengan lalapannya. Hem.. sepertinya belum terasa pedas. Hanya ada rasa asin. Kemudian setelah colekan sambal kedua, bibir dan lidahku sudah mulai merasakan panas.. makin lama makin panas… buseeeet… ini sambel nendang banget ternyata.. ini niiihh baru sambeeel.. gak bohong deh pedesnya minta ampun.. mantab pisan.. Ketika aku merasakan pedas… dunia terasa inidah sekali.. wuih.. mungkin kalo orang nge-drugs, aku cukup dengan sambal saja.. benar saja, aku sampi nangis karena kepedesan.. he3.. tapi bagiku kalo sambel belum membuatku nangis, namanya belum sambel.. uuueeenaaaakk tenaaann… pokoknya kalo kalian ke Kupang kalian harus merasakan yang namanya se’i ini.. soalnya ini cuma ada di Kupang.. dan tidak di bagian NTT manapun. Pokoknya rugi deh kalau kalian sudah pergi sejauh ini ke Kupang dan nggak makan. Aku salah karena sudah pesan es jeruk, es jeruk tidak mengurangi pedas di mulut. Akupun memesan teh hangat supaya bibirku ini tidak terasa dower karena kepedesan.

Kemudian aku pulang bareng sama temen-temen naik bemo ke arah yang berlawanan dengan kami berangkat, kebetulan bemonya penuh, jadi aku dan dua temanku bergelantungan di pintu.. huhuhu.. jadi inget waktu jaman aku SMP. Di desan nun jauh disana, aku dulu juga kalau berangkat dan pulang sekolah sering bergelantungan di pintu, bahkan malah memilih tempat di atas angkot yang di beri palang-palang besi dengan maksud untuk tempat barang, namun malah oleh aku dan anak-anak sebayaku waktu itu digunakan untuk tempat duduk. Rasanya enak diterpa angin jadi tidak kepanasan di dalam angkot. Yah, kita waktu itu belum berpikir betapa berbahayanya duduk diatas angkot seperti itu dengan kecepatan yang tidak bisa dikatakan pelan atau sedang-sedang saja. Karena supir angkot juga berusaha menambah kecepatan untuk segera sampai di terminal selanjutnya untuk kembali mengangkut penumpang yang lain.

Sampai di hotel, menunggu sore sambil tidur siang. Kemudian waktu berlalu dan sore hingga malam itu aku lakukan dengan kegiatan yang seperti biasanya.

3rd days

Kami kembali ke Dinkes untuk mengambil surat-surat yang dijanjikan sudah jadi hari ini. Dan sampai di Dinkes, surat memang sudah jadi. Kita tinggal menunggu berangkat ke Kabupaten masing-masing. Hari itu kita juga menunggu cukup lama karena menunggu uang transport yang hendak dicairkan di Bank. Kami yang bertujuan ke Manggarai Barat mulai memikirkan transport menuju kesana. Karena ternyata pihak dinkes tidak mengurusi keberangkatan kami. Kami hanya diberi uang transport, dan selebihnya itu menjadi tanggungan masing-masing untuk berangkat kapan dan naik apa. Ini berbeda dengan waktu kita berangkat dari Jawa ke NTT, waktu itu perjalanan kita diurusi sepenuhnya sampai tiba di provinsi tujuan. Kita mulai menyusun rencana untuk pemberangkatan. Pada dasarnya ada 2 jalur untuk menuju kabupaten tujuan kami, yaitu lewat jalur laut, atau udara. Kebetulan Kupang terletak di ujung barat pulau timor, sementara Kab Manggarai Barat, terletak di ujung barat pulau Flores. Jika memilih jalur laut, biaya yang dikeluarkan jauh lebih murah dibanding dengan pesawat. Hanya saja waktu yang ditempuh lumayan lama. Sekitar 10 jam atau mungkin lebih. Selain itu resiko yang akan dialami adalah tenggelam di tengah laut dengan kedalaman yang mengerikan (hihihihi…). Karena laut yang dilewati dari Kupang ke Manggarai Barat cukup luas, semantara menurut beberapa orang akhir-akhir ini cuaca sedang tidak baik sehingga ombaknya terlalu mengandung resiko untuk dilawan. Sementara apabila memakai jalur udara, kita sampai di Manggarai barat sekitar 1-1½ jam. Dengan resiko jatuh dari ketinggian yang juga mengerikan (hihihih… lagiii..???). Tapi, dalam hal ini banyak yang mengatakan resiko naik kapal lebih tinggi dibanding dengan menggunakan pesawat. Akhirnya kami memutuskan menuju “kota” tujuan menggunakan jalur udara. Malam hari kami makan di KFC mall Flobamora Kupang, sambil memikirkan hari keberangkatan. Kebetulan anggota kami ada yang asli Manggarai Barat, jadi setidaknya ada guide yang bisa memberi kami bayangan untuk masalah pemberangkatan ini. Kami kumpul di KFC sekitar jam 19.00 waktu setempat. Dan ternyata sampai 2 jam selanjutnya kami masih berkutat dalam pemberangkatan ini. Karena sudah dua minggu ini tidak ada pesawat yang terbang dari Kupang ke Labuan Bajo. Labuan Bajo adalah nama ibukota Kabupaten Manggarai Barat. Hal ini dikarenakan karena pesawat yang biasa terbang kesana saat ini sedang mengalami perbaikan. Meskipun tidak semua sedang diperbaiki, setidaknya informasi terbaru ada 2 pesawat yang sedang trouble, namun keberangkatan ke Labuan Bajo tetap tidak ada. Pesawat yang lain lebih memilih route perjalanan ke Kabupaten terdekat yang lain seperti Ende, Bajawa, dan Ruteng. Itupun jadwalnya belum jelas, bisa saja setiap saat keberangkatan di cancel, atau diundur sampai batas waktu yang tidak bisa ditentukan. Sampai kita pulang kembali ke hotelpun, masih belum ada kata kejelasan untuk keberangkatan. Huf3.. inilah NTT. Orang bilang NTT, Nasib Tak Tentu..he3..

Pagi hari kita ke Dinkes untuk kembali bertemu membahas masalah keberangkatan, setelah menghubungi biro-biro travel ,akhirnya ada juga pesawat yang menuju ke Pulau Flores, itupun bukan ke Labuan Bajo, tapi ke Bajawa. Itu adalah pesawat yang tujuannya paling dekat dengan Manggarai Barat dan berangkat paling cepat harinya, itupun berangkat hari selasa. Artinya aku masih 3 hari lagi lontang-lantung di kota Kupang ini.. aku dan teman-teman mulai membayangkan betapa tipisnya kantongku nanti saat keluar dari Kupang ini.he3. Secara, apa-apa disini malah pisan. Mau makan nasgor paling murah aja Rp 15.000.hiks3.. terlebih lagi saat ini terdengar kabar bahwa kami dibiayai untuk menginap di hotel sampai hari ketiga. Itu berarti, besok kami harus check out dari hotel, atau membayar hotel sendiri. Beruntung ada teman seperjuangan yang temannya lagi, kenal baik dengan kepala BKKBN Kupang, sehingga kami boleh menginap gratis di mess BKKBN sampai kami berangkat. Jadilah kami ber-delapan anggota brigade angkatan PTT Manggarai Barat menginap disana. Sampai akhirnya kami berangkat pada hari Selasa menuju Bajawa, dari bandara Eltari Kupang. Kita naik pesawat fokker berkapasitas penumpang hingga 40 orang, dengan bagasi maksimal 10 kg. Selebihnya membayar 22rb/kg. Pesawat fokker ini menggunakan baling-baling di kedua sayapnya untuk membantu terbang. Dan saat take off terasa sekali getaran pada tubuh pesawat.. benar-benar pengalaman yang menegangkan. Tampak pulau Timor dari pesawat terbang. Pualu yang insah, namun harus kutinggalkan karena aku harus menuju Flores. Sampai pada titik ketinggian yang ditentukan. Pesawat dari arah keatas, berubah menjadi mendatar. Nah, saat perubahan posisi inilah terasa seolah-olah terasa kita jatuh. Sehingga teman-teman yang lainpun berteriak karena takut. Jadi mirip wahana Dunia Fantasi saja. Karena banyak rekan sejawat yang menuju Manggarai Timur, Manggarai, dan Manggarai Barat yang ikut bersama. He3. Aku sendiri tidak bisa tidur, karena tidak ingin melewatkan kesempatan bagus ini. Melihat pulau Flores dari atas. Sementara taman yang lain ada yang mengobrol, dana beberapa tertidur karena kecapaian. Sekitar hampir setengah jam kemudian, tampaklah sesuatu berwarna hitam, semu hijau dan biru di langit bagian bawah, dengan bentuk tak beraturan dan memanjang. Sepertinya ini itu daratan. Dan benar saja, sekira limabelas menit kemudian, tampaklah suatu pemandangan yang sangat indah. Pulau Flores ini sangatlah berbeda dari pulau-pulau yang pernah aku lihat sebelumnya. He3, karena aku memang baru pernah melihat P Jawa, P Bali, dan P Timor. Hehehehe… Dari jendela di pintu pesawat, Flores adalah pulau yang sangat indah, banyak sekali gunung di sini. Seolah-olah nampak seperti ditonjok-tonjok dari bawah sampai keluar ke atas. Sangat sedikit ada dataran rendah yang lebar dan luas.

Aduuhh.. capek.. to be continue..hihihihi… maap yaks..

4 Tanggapan to “sesion 2”

  1. aku pengen bgt berkunjung ke pulau Alor, tp gak tahu rutenya kl dr Jkarta hrs transit dulukah taw bgmna ? apakah bpk bs bantu ksh saran ke saya. trims.

  2. kathryn Says:

    Ka thanks yah buat ceritanya yang lucu n deskriptif sekali….. hehehe
    saya juga berencana mau ptt di sana tapi lom tau mau di kota apanya….. thx buat sharingnya… ditunggu loh cerita” selanjutnya biarpun ini kanyanya dah lama banget yah…..

  3. Di manggarai barat dapat insentif g?besar ga?hehehehe

  4. Novandi (mcvandee) Says:

    aduh.. maap TS semua.. saya baru sempet buka lagi
    @Kathyrin: sepertinya sudah tidak sempat memanjangkan ceritanya lagi hahahaha.. skg ld ambil PPDS keknya sibuuk gitu. padahal ga juga si. wkwkwk
    @tama: dulu sih (3 th yang lalu) masih dapet. ga tll besar sih, tp cukuplah..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: